KATA-KATA BIJAK

BIJAKSANA BERMULA DARI KATA-KATA DAN PENERAPAN DIKEHIDUPAN, DAN BERIKUT KATA-KATA BIJAK YG SAYA PEROLEH DARI BERBAGAI SUMBER. BY.VENDRIAN DINATA

RIP PES 2014

GAME RIP PES 2014 (2.14 GB) BY.VENDRIAN DINATA

NEED FOR SPEED RIVAL 3GB

GAME RACING SERU, DENGAN GAMBAR YANG REALISTIS DAN PENUH TANTANGAN. BY.VENDRIAN DINATA

DOWNLOAD SPSS V.20 FULL VERSION IDWS

Membantu menangani berbagai permasalahan statistik, terutama bagi kalain yang sedang menyusun skripsi pasti butuh spss sebagai pengolah data. by.vendrian dinata

ONE PIECE THE MOVIE

BERBAGAI FILM THE MOVIE ONE PIECE

Tampilkan postingan dengan label TEKNOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEKNOLOGI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Konsep Dasar Audit



Konsep Dasar Audit



Kata Audit berasal dari bahasa Latin "Audire", (B.N.Tandon, 2000, p.l) yang berarti "mendengar". Pada jaman dahulu apabila seorang pemilik usaha merasa ada suatu kesalahan / penyalahgunaan, maka ia akan mendengarkan kesaksian orang tertentu. Dengan  menunjuk orang tertentu sebagai auditor yang akan memeriksa akun perusahaan dan menyatakan  pendapat mengenai akun perusahaan tersebut serta menerbitkan laporan.

Audit sesungguhnya dilakukan untuk mengevaluasi apakah kegiatan kerja atau kinerja suatu organisasi sudah sesuai dengan yang direncanakan, sudah efektif, efisien, sesuai dengan pedoman standar produktivitas yang direncanakan.

Pada dasarnya Audit merupakan proses sistematis dan objektif dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti tindakan ekonomi, guna memberikan asersi dan menilai seberapa jauh  tindakan ekonomi sudah sesuai dengan kriteria berlaku, dan mengkomunikasikan hasilnya  kepada pihak terkait.

Pada umumnya terdapat tiga jenis Audit yaitu :
  • Audit Keuangan 
  • Audit Operasional / Manajemen 
  • Audit Sistem Informasi 

Pengertian Audit Sistem Informasi

Ron Weber (1999,10) mengemukakan bahwa audit sistem informasi adalah : 
” Information systems auditing is the process of collecting and evaluating evidence to determine  whether a computer system safeguards assets, maintains data integrity, allows organizational  goals to be achieved effectively, and uses resources efficiently”. 

“Audit sistem informasi adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti - bukti untuk menentukan apakah sistem komputer dapat mengamankan aset, memelihara integritas data, dapat  mendorong pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan menggunakan sumberdaya secara  efisien”.

Ada beberapa aspek yang diperiksa pada audit sistem informasi:

  • Audit secara keseluruhan menyangkut : efektifitas, efisiensi, availability system, reliability, confidentiality, dan integrity, serta aspek security. 
  • Selanjutnya adalah audit atas proses, modifikasi program, audit atas sumber data, dan data file.
Proses audit sistem informasi dilakukan berdasarkan prosedur melalui tahap-tahap sebagai berikut :
  • Perencanaan Audit (Planning The Audit) 
  • Pengujian Pengendalian (Test Of Controls) 
  • Pengujian Transaksi (Test Of Transaction)
  • Pengujian Keseimbangan atau Keseluruhan Hasil (Tests Of Balances or Overal Result) 
  • Penyelesaian / Pengakhiran Audit (Completion Of The Audit) 

Berikut penjelasan dari tahap-tahap Audit : 

a. Perencanaan Audit (Planning The Audit) 

Perencanaan merupakan fase pertama dari kegiatan audit, bagi auditor eksternal hal ini artinya adalah melakukan investigasi terhadap klien untuk mengetahui apakah pekerjaan mengaudit dapat diterima, menempatkan staff audit, menghasilkan perjanjian audit,  menghasilkan informasi latar belakang klien, mengerti tentang masalah hukum klien dan melakukan analisa tentang prosedur yang ada untuk mengerti tentang bisnis klien dan mengidentifikasikan resiko audit.

b. Pengujian Pengendalian (Test Of Controls)

Auditor melakukan kontrol test ketika mereka menilai bahwa kontrol resiko berada pada  level kurang dari maksimum, mereka mengandalkan kontrol sebagai dasar untuk mengurangi biaya testing. Sampai pada fase ini auditor tidak mengetahui apakah identifikasi kontrol telah berjalan dengan efektif, oleh karena itu diperlukan evaluasi yang spesifik.

c. Pengujian Transaksi (Test Of Transaction)

Auditor menggunakan test terhadap transaksi untuk mengevaluasi apakah kesalahan atau proses yang tidak biasa terjadi pada transaksi yang mengakibatkan kesalahan pencatatan material  pada laporan keuangan. Tes transaksi ini termasuk menelusuri jurnal dari sumber dokumen, memeriksa file dan mengecek keakuratan.

d. Pengujian Keseimbangan atau Keseluruhan Hasil (Tests Of Balances or Overal Result)

Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan pada fase ini, yang harus diperhatikan adalah pengamatan harta dan kesatuan data. Beberapa jenis subtantif tes yang digunakan adalah  konfirmasi piutang, perhitungan fisik persediaan dan perhitungan ulang aktiva tetap.

e. Penyelesaian / Pengakhiran Audit (Completion Of The Audit)

Pada fase akhir audit, eksternal audit akan menjalankan beberapa test tambahan terhadap bukti yang ada agar dapat dijadikan laporan.  Lingkup Audit Sistem Informasi pada umumnya difokuskan kepada seluruh sumber daya sistem  informasi yang ada, yaitu Aplikasi, Informasi, Infrastruktur dan Personil.



Tujuan Audit Sistem Informasi

Tujuan Audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan ke dalam dua aspek utama dari

ketatakelolaan IT, yaitu :
  1. Conformance (Kesesuaian) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kesesuaian, yaitu : Confidentiality (Kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability (Ketersediaan) dan Compliance (Kepatuhan). 
  2. Performance (Kinerja) – Pada kelompok tujuan ini audit sistem informasi difokuskan untuk memperoleh kesimpulan atas aspek kinerja, yaitu : Effectiveness (Efektifitas), Efficiency (Efisiensi), Reliability (Kehandalan). 
Tujuan audit sistem informasi menurut Ron Weber tujuan audit yaitu :
  1. Mengamankan asset 
  2. Menjaga integritas data 
  3. Menjaga efektivitas sistem 
  4. Mencapai efisiensi sumberdaya. 
Keempat tujuan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Mengamankan aset, aset (activa) yang berhubungan dengan instalasi sistem informasi mencakup: perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), manusia (people), file data,  dokumentasi sistem, dan peralatan pendukung lainnya. Sama halnya dengan aktiva - aktiva yang lain, maka aktiva ini juga perlu dilindungi dengan  memasang pengendalian internal. Perangkat keras dapat rusak karena unsur kejahatan atau  sebab-sebab lain. Perangkat lunak dan isi file data dapat dicuri. Peralatan pendukung dapat digunakan untuk tujuan yang tidak diotorisasi. 

Menjaga integritas data, integritas data merupakan konsep dasar audit sistem informasi. Integritas data berarti data memiliki atribut: kelengkapan, baik dan dipercaya, kemurnian, dan ketelitian. Tanpa menjaga integritas data, organisasi tidak dapat memperlihatkan potret dirinya dengan benar atau kejadian yang ada tidak terungkap seperti apa adanya. Akibatnya, keputusan maupun langkah-langkah penting di organisasi salah sasaran karena tidak didukung dengan data yang benar. Meskipun demikian, perlu juga disadari bahwa menjaga integritas data tidak terlepas dari pengorbanan biaya. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga integritas data, dengan konsekuensi akan ada biaya prosedur pengendalian yang dikeluarkan harus sepadan dengan manfaat yang diharapkan. 

Menjaga efektivitas sistem, sistem informasi dikatakan efektif hanya jika sistem  tersebut dapat mencapai tujuannya. Untuk menilai efektivitas sistem, perlu upaya untuk  mengetahui kebutuhan pengguna sistem tersebut (user). Selanjutnya, untuk menilai apakah sistem menghasilkan laporan atau informasi yang bermanfaat bagi user (misalnya pengambil keputusan), auditor perlu mengetahui karakteristik user berikut proses pengambilan keputusannya. Biasanya audit efektivitas sistem dilakukan setelah suatu sistem berjalan beberapa waktu. Manajemen dapat meminta auditor untuk melakukan post audit guna menentukan sejauh mana sistem telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini akan memberikan masukan bagi pengambil keputusan apakah kinerja sistem layak dipertahankan; harus ditingkatkan atau perlu dimodifikasi; atau sistem sudah usang, sehingga harus ditinggalkan dan dicari penggantinya

Audit efektivitas sistem dapat juga dilaksanakan pada tahap perencanaan sistem (system design). Hal ini dapat terjadi jika desainer sistem mengalami kesulitan untuk mengetahui kebutuhan user, karena user sulit mengungkapkan atau mendeskripsikan kebutuhannya. Jika sistem bersifat komplek dan besar biaya penerapannya, manajemen dapat mengambil sikap agar sistem dievaluasi terlebih dahulu oleh pihak yang independen untuk mengetahui apakah rancangan sistem sudah sesuai dengan kebutuhan user. Melihat kondisi seperti ini, auditor perlu mempertimbangkan untuk melakukan evaluasi sistem dengan berfokus pada kebutuhan dan kepentingan manajemen.

Mencapai efisiensi sumberdaya, suatu sistem sebagai fasilitas pemrosesan informasi dikatakan efisien jika ia menggunakan sumberdaya seminimal mungkin untuk menghasilkan output yang dibutuhkan. Pada kenyataannya, sistem informasi menggunakan berbagai sumberdaya, seperti mesin, dan segala perlengkapannya, perangkat lunak, sarana komunikasi dan tenaga kerja yang mengoperasikan sistem tersebut. Sumberdaya seperti ini biasanya sangat terbatas adanya. Oleh karena itu, beberapa kandidat sistem (system alternatif) harus berkompetisi untuk memberdayakan sumberdaya yang ada tersebut.

Adapun tujuan yang lain adalah :

  • Untuk memeriksa kecukupan dari pengendalian lingkungan, keamanan fisik, keamanan logikal serta keamanan operasi sistem informasi yang dirancang untuk melindungi piranti keras, piranti lunak dan data terhadap akses yang tidak sah, kecelakaan, perubahan yang tidak dikehendaki. 
  • Untuk memastikan bahwa sistem informasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan sehingga bisa membantu organisasi untuk mencapai tujuan strategis. 


Perlunya Pengendalian dan Audit 

Semenjak komputer menjadi alat utama dalam pemrosesan data dan penyediaan informasi untuk berbagai keputusan, maka sangat perlu bagi pengguna sistem informasi berbasis komputer untuk mengendalikan pemakaian sistem pengolah data berbasis komputer tersebut  secara lebih baik. Beberapa alasan untuk manajemen memerlukan sebuah Audit Sistem  Informasi, yaitu antara lain adalah sebagai berikut:

a. Kerugian akibat kehilangan data.
Data yang diolah menjadi sebuah informasi, merupakan aset penting dalam organisasi bisnis saat ini. Banyak aktivitas operasi mengandalkan beberapa informasi yang penting. Informasi sebuah organisasi bisnis akan menjadi sebuah potret atau gambaran dari kondisi  organisasi tersebut di masa lalu, kini dan masa mendatang. Jika informasi ini hilang akan berakibat cukup fatal bagi organisasi dalam menjalankan aktivitasnya.

Sebagai contoh adalah jika data nasabah sebuah bank hilang akibat rusak, maka informasi yang terkait akan hilang, misalkan siapa saja nasabah yang mempunyai tagihan pembayaran  kredit yang telah jatuh tempo. Atau juga misalkan kapan bank harus mempersiapkan pembayaran  simpanan deposito nasabah yang akan jatuh tempo beserta jumlahnya. Sehingga organisasi bisnis  seperti bank akan benar-benar memperhatikan bagaimana menjaga keamanan datanya.

Kehilangan data juga dapat terjadi karena tiadanya pengendalian yang memadai, seperti tidak adanya prosedur back-up file. Kehilangan data dapat disebabkan karena gangguan sistem  operasi pemrosesan data, sabotase, atau gangguan karena alam seperti gempa bumi, kebakaran atau banjir.


b. Kerugian akibat kesalahan pemrosesan komputer. 
Pemrosesan komputer menjadi pusat perhatian utama dalam sebuah sistem informasi berbasis komputer. Banyak organisasi telah menggunakan komputer sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka. Mulai dari pekerjaan yang sederhana, seperti perhitungan bunga berbunga sampai penggunaan komputer sebagai bantuan dalam navigasi  pesawat terbang atau peluru kendali. Dan banyak pula di antara organisasi tersebut sudah saling terhubung dan terintegrasi. Akan sangat mengkhawatirkan bila terjadi kesalahan dalam pemrosesan di dalam komputer. Kerugian mulai dari tidak dipercayainya perhitungan matematis sampai kepada ketergantungan kehidupan manusia. 

c. Pengambilan keputusan yang salah akibat informasi yang salah.
Kualitas sebuah keputusan sangat tergantung kepada kualitas informasi yang disajikan untuk pengambilan keputusan tersebut. Tingkat akurasi dan pentingnya sebuah data atau informasi tergantung kepada jenis keputusan yang akan diambil. Jika top manajer akan mengambil keputusan yang bersifat strategik, mungkin akan dapat ditoleransi berkaitan dengan sifat keputusan yang berjangka panjang. Tetapi kadangkala informasi yang menyesatkan akan berdampak kepada pengambilan keputusan yang menyesatkan pula.


d. Kerugian karena penyalahgunaan komputer (Computer Abused)
Tema utama yang mendorong perkembangan dalam audit sistem informasi dalam sebuah organisasi bisnis adalah karena sering terjadinya kejahatan penyalahgunaan komputer. Beberapa  jenis tindak kejahatan dan penyalah-gunaan komputer antara lain adalah virus, hacking, akses langsung yang tak legal (misalnya masuk ke ruang komputer tanpa ijin atau menggunakan sebuah terminal komputer dan dapat berakibat kerusakan fisik atau mengambil data atau program komputer tanpa ijin) dan atau penyalahgunaan akses untuk kepentingan pribadi (seseorang yang mempunyai kewenangan menggunakan komputer tetapi untuk tujuan-tujuan yang tidak semestinya).

- Hacking - seseorang yang dengan tanpa ijin mengakses sistem komputer sehingga dapat melihat, memodifikasi, atau menghapus program komputer atau data atau mengacaukan sistem.

- Virus – virus adalah sebuah program komputer yang menempelkan diri dan menjalankan sendiri sebuah program komputer atau sistem komputer di sebuah disket, data atau program yang bertujuan mengganggu atau merusak jalannya sebuah program atau data komputer yang ada di dalamnya. Virus dirancang dengan dua tujuan, yaitu pertama mereplikasi dirinya sendiri secara aktif dan kedua mengganggu atau merusak sistem operasi, program atau data.

Dampak dari kejahatan dan penyalahgunaan komputer tersebut antara lain:

  • Hardware, software, data, fasilitas, dokumentasi dan pendukung lainnya rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi dan disalahgunakan.
  • Kerahasiaan data atau informasi penting dari orang atau organisasi rusak atau hilang dicuri atau dimodifikasi.
  • Aktivitas operasional rutin akan terganggu.
  • Kejahatan dan penyalahgunaan komputer dari waktu ke waktu semakin meningkat, dan hampir 80% pelaku kejahatan komputer adalah „orang dalam..


e. Nilai hardware, software dan personil sistem informasi

Dalam sebuah sistem informasi, hardware, software, data dan personil adalah merupakan sumberdaya organisasi. Beberapa organisasi bisnis mengeluarkan dana yang cukup besar untuk investasi dalam penyusunan sebuah sistem informasi, termasuk dalam pengembangan sumberdaya manusianya. Sehingga diperlukan sebuah pengendalian untuk menjaga investasi di bidang ini.


f. Pemeliharaan kerahasiaan informasi

Informasi di dalam sebuah organisasi bisnis sangat beragam, mulai data karyawan, pelanggan, transaksi dan lainya adalah amat riskan bila tidak dijaga dengan benar. Seseorang dapat saja memanfaatkan informasi untuk disalahgunakan. Sebagai contoh bila data pelanggan yang rahasia, dapat digunakan oleh pesaing untuk memperoleh manfaat dalam persaingan.


Teknik Audit

Ada beberapa teknik audit untuk mengetes automated control. Auditor dapat menggunakan tiga kategori berikut dalam menguji pengendalian biasa juga disebut sebagai teknik audit berbantuan computer / TABK (Computer Assisted Audit Techniques/CAAT) yang terdiri atas:

a. Auditing Around the Computer
Dengan teknik ini auditor menguji reliability dari computer generated information dengan terlebih dahulu menghitung hasil yang diinginkan dari transaksi yang dimasukkan dalam sistem, dan kemudian membandingkan hasil perhitungan dengan hasil proses atau output. Jika terbukti akurat dan valid, maka diasumsikan bahwa sistem pengendalian berfungsi seperti yang seharusnya. Kondisi ini
cocok jika sistem aplikasi otomasi sederhana dan ringkas. Pendekatan ini masih relevan dipakai di perusahaan yang menggunakan software akuntansi yang bervariasi dan melakukan proses secara periodik.

b. Auditing With the Computer
Adalah auditing dengan pendekatan komputer, menggunakan teknik yang bervariasi yang biasa juga disebut Computer Assisted Audit Technique (CAAT). Penggunaan CAAT telah meningkatkan secara dramatis kapabilitas dan efektifitas auditor, dalam melakukan susbstantif test. Salah satu CAAT yang lazim dipakai adalah general audit software (GAS). GAS sering dipakai untuk melakukan substantive test dan digunakan test of control yang terbatas. Sebagai contoh GAS sering dipakai untuk mengetes fungsi algoritma yang komplek dalam program komputer. Tetapi ini memerlukan pengalaman yang luas dalam penggunaan software ini.

c. Audit Through the Computer
Teknik ini fokus pada testing tahapan pemrosesan computerised, logic program, edit routines dan program controls. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa jika program pemrosesan dikembangkan dengan baik, dan memenuhi edit routines dan programme check yang memadai, maka error dan kecurangan tidak akan mudah terjadi tanpa terdeteksi.


Auditor

Auditor merupakan seseorang yang memiliki kualifikasi tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan dan kegiatan suatu perusahaan atau organisasi. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi maka berkembang pulalah suatu keahlian dalam profesi auditor, yaitu auditor sistem informasi. Hal ini didasari bahwa semakin banyak transaksi keuangan yang berjalan dalam sebuah sistem komputer. Maka dari itu perlu dibangun sebuah kontrol yang mengatur agar proses komputasi berjalan menjadi baik. Saat ini auditor sistem informasi umumnya digunakan pada perusahaan-perusahaan besar yang sebagian besar transaksi berjalan secara otomatis. Auditor sistem informasi dapat berlatar belakang IT atau akuntansi tentunya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pada umumnya terdapat tiga jenis auditor, yaitu:

  • Auditor Pemerintah adalah auditor yang bertugas melakukan audit pada instansi-instansi pemerintah.
  • Auditor Intern merupakan auditor yang bekerja pada suatu perusahaan dan oleh karenanya berstatus sebagai pegawai pada perusahaan tersebut. Tugas utamanya ditujukan untuk membantu manajemen perusahaan tempat dimana ia bekerja.
  • Auditor Independen atau Akuntan Publik adalah melakukan fungsi pengauditan yang diterbitkan oleh perusahaan. Pengauditan ini dilakukan pada perusahaan terbuka, yaitu perusahaan yang go public, perusahaan-perusahaan besar dan juga perusahaan kecil serta organisasi-organisasi yang tidak bertujuan mencari laba. Praktik akuntan publik harus dilakukan melalui suatu Kantor Akuntan Publik (KAP).


Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang auditor, diantaranya :

  • Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memilki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.

Dalam melaksanakan audit sampai pada suatu pernyataan pendapat, auditor harus senantiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dari pendidikan formal ditambah dengan pengalaman-pengalaman dalam praktik audit dan menjalani pelatihan teknis yang cukup. Asisten junior yang baru masuk dalam karir auditing harus memperoleh pengalaman profesionalnya dengan mendapatkan supervisi yang memadai dan review atas pekerjaannya dari atasannya yang lebih berpengalaman. Pelatihan yang dimaksudkan disini, mencakup pula pelatihan kesadaran untuk secara terus-menerus mengikuti perkembangan yang terjadi dalam bidang bisnis dan profesinya. Ia harus mempelajari, memahami, dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam prinsip dan standar auditing yang telah ditetapkan.


  • Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dan sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

Standar ini mengharuskan seorang auditor bersikap independen, yang artinya seorang auditor tidak mudah dipengaruhi, karena pekerjaannya untuk kepentingan umum. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Untuk menjadi independen, seorang auditor harus secara intelektual jujur. Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam Kode Etik Akuntan Indonesia, agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat. Independensi secara intrinsik merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan yang dirumuskan untuk dapat diuji secara objektif.


  • Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menekankan tanggung jawab setiap profesional yang bekerja dalam organisasi auditor. Selain itu juga menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaannya tersebut. Seorang auditor harus memiliki “tingkat keterampilan yang umumnya dimiliki” oleh auditor pada umumnya dan harus menggunakan keterampilan tersebut dengan “kecermatan dan keseksamaan yang wajar”. Untuk itu, auditor dituntut untuk memiliki skeptisme profesional dan keyakinan yang memadai dalam mengevaluasi bukti audit.


Berikut ini merupakan peran auditor, yaitu:
  1. Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjannya. 
  2. Sistem Pemrosesan Transaksi. Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan. 
  3. Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable untuk memberikan kesimpulan rasional. 
  4. Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan pada pengendalian internal, hendaknya memastikan dan mengevaluasi pengendalian itu  dan melakukan compliance test. 
  5. Peninjauan Ulang Laporan. Auditor melaksanakan tinjau ulang laporan yang relevan seperlunya, dalam hubungannya dengan kesimpulan yang diambil  berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan yang ada. 














Kamis, 22 Mei 2014

CYBER CRIME

 


PENDAHULUAN

Cybercrime merupakan fenomena sosial yang membuka cakrawala  keilmuan dalam dunia hukum, betapa suatu kejahatan yang sangat dasyat dapat dilakukan dengan hanya duduk manis di depan computer. Cybercrime merupakan sisi gelap dari kemajuan tehnologi komunikasi dan informasi yang membawa implikasi sangat luas dalam seluruh bidang kehidupan karena terkait erat dengan economic crime dan organized crimes.  Ada dua isu hukum (legal issues) yang menarik untuk dikaji. Pertama, mengenai kejahatan hacking dalam perspektif kebijakan hukum  pidana yang berlaku saat ini. Kedua, penanggulangan kejahatan hacking

J.E. Sahetapy menyatakan bahwa kejahatan erat kaitannya dan bahkan menjadi bagian dari hasil budaya itu sendiri. Artinya semakin tinggi tingkat budaya dan semakin modern suatu bangsa, maka semakin modern  pula kejahatan  itu bentuk, sifat dan cara pelaksanaannya. Kejahatan dalam bidang teknologi informasi secara umum dapat dikategorikan menjadi dua kelompok.
  1. Kejahatan biasa yang menggunakan teknologi informasi sebagai alat bantunya. Dalam kejahatan ini terjadi peningkatan modus dan operansinya dari semula menggunakan peralatan biasa, sekarang telah memanfaatkan teknologi informasi. Dampak dari kejahatan biasa yang telah menggunakan teknologi informasi ternyata  berdampak cukup serius, terutama jika dilihat dari jangkauan dan nilai kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan tersebut. Pencurian uang dengan pembobolan bank atau pembelian barang menggunakan kartu kredit curian
melalui media internet dapat menelan korban di wilayah hukum negara lain, suatu hal yang jarang terjadi dalam kejahatan konvensional.
  1. Kejahatan yang muncul setelah adanya internet, dimana sistem komputer  sebagai korbannya. Kejahatan yang menggunakan aplikasi internet adalah salah satu perkembangan dari kejahatan teknologi informasi. Jenis kejahatan dalam kelompok ini makin bertambah seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Contoh dari kejahatan kelompok ini adalah perusakan situs internet, pengiriman virus atau program-program komputer yang tujuannya merusak sistem kerja komputer.


PEMBAHASAN

Dalam rangka menanggulangi cybercrime, Resolusi Kongres PBB VIII/1990 mengenai Computer Related Crimes dan International Industry Congres (IIIC) 2000 Millenium Congres di Quebec pada tanggal 19 September 2000 dan Kongres PBB mengenai The Prevention of Crime anda  The Treatment of Offenders, mengajukan beberapa kebijakan antara lain :
  1. Menghimbau Negara-negara anggota untuk mengintensifkan upaya- upaya penanggulangan penyalahgunaan computer yang lebih efektif dengan mempertimbangkan langkah-langkah sebagai berikut:
    • Melakukan modernisasi hukum pidana meteriil dan hukum acara pidana;
    • Mengembangkan tindakan-tindakan pencegahan dan pengamanan komputer;
    • Melakukan langkah-langkah untuk membuat warga masyarakat, aparat pengadilan dan penegak hukum sensitive terhadap pentingnya pencegahan kejahatan yang berhubungan dengan computer (cybercrime);
    • Memperluas rules of ethics dalam penggunaan computer dan mengajarkannya dalam kurikulum informatika;
    • Mengadopsi kebijakan perlindungan korban cybercrime sesuai dengan deklarasi PBB mengenai korban, dan mengambil langkah- langkah untuk mendorong korban melaporkan adanya cybercrime.
  2. Menghimbau negara-negara anggota meningkatkan kegiatan internasional dalam upaya penanggulangan cybercrime.
  3. Merekomendasikan kepada  Komite Pengendalian dan Pencegahan Kejahatan (committee on Crime Preventon And Control) PBB untuk :
    • Menyebarluaskan pedoman dan standar untuk membantu Negara anggota menghadapi cybercrime di tingkat nasional, regional dan internasional;
    • Mengembangkan penelitian dan analisa lebih lanjut guna menemukan cara-cara baru menghadapi problem cybercrime di masa depan;
    • Mempertimbangkan cybercrime sewaktu meninjau pengimplementasian perjanjian ekstradisi dan bantuan kerjasama di bidang penanggulangan kejahatan.

Secara internasional, PBB telah menghimbau Negara-negara anggota untuk menanggulangi cybercrime dengan sarana penal, namun dalam  kenyataannya tidaklah mudah. Dokumen Kongres PBB X/2000 sendiri mengakui bahwa ada beberapa kesulitan dalam menanggulangi cybercrime dengan sarana penal, antara lain:
  1. Perbuatan jahat yang dilakukan berada di lingkungan elektronik. Oleh karena itu penanggulangan cybercrime memerlukan keahlian khusus, prosedur investigasi dan kekuatan/dasar hukum yang mungkin tidak  tersedia di Negara yang bersangkutan;
  2. Cybercrime melampaui batas-batas Negara, sedangkan supaya penyidikan dan penegakan hukum selama ini dibatasi dalam wilayah territorial negaranya sendiri;
  3. Struktur terbuka dari jaringan komputer internasional memberi  peluang kepada pengguna untuk memilih lingkungan hukum (Negara) yang belum mengkriminalisasikan cybercrime. Terjadi “data havens”  (Negara tempat berlindung/singgahnya data, yaitu Negara yang tidak memprioritaskan pencegahan penyalahgunaan jaringan komputer) dapat menghalangi usaha Negara lain untuk memberantas kejahatan itu.

Kejahatan atau tindak pidana yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi  informasi yakni komputer.  Sejumlah kejahatan cybercrime yang cukup menonjol belakangan ini adalah:
  1. Sabotase terhadap perangkat-perangkat digital, data-data milik orang lain dan jaringan komunikasi data penyalahgunaan network orang lain.
  2. Penetrasi terhadap sistem komputer dan jaringan sehingga menyebabkan privasi orang/lembaga lain terganggu atau gangguan pada fungsi komputer  yang digunakan.
  3. Melakukan akses-akses ke server tertentu atau ke internet yang tidak diizinkan oleh peraturan organisasi/ penyusupan ke web server sebuah situs, kemudian  si penyusup mengganti halaman depan situs tersebut.
  4. Tindakan penyalahgunaan kartu kredit orang lain di internet.
  5. Tindakan atau penerapan aplikasi dalam usaha untuk membuka proteksi  sebuah software atau sistem secara ilegal.
  6. Pembuatan program ilegal yang dibuat untuk dapat menyebar dan menggandakan diri secara cepat dalam jaringan (biasanya melalui e-mail liar) yang bertujuan untuk membuat kerusakan dan kekacauan sistem.

Berikut sejumlah jenis kejahatan via internet

  1. Carding
    adalah berbelanja menggunakan nomor dan identitas kartu kredit orang lain, yang diperoleh secara ilegal, biasanya dengan mencuri data di internet. Sebutan pelakunya adalah Carder. Sebutan lain untuk kejahatan jenis ini adalah cyberfroud alias penipuan di dunia maya.
Menurut riset Clear Commerce Inc, perusahaan teknologi informasi yang berbasis di Texas – AS , Indonesia memiliki carder terbanyak kedua di dunia setelah Ukrania.
Sebanyak 20 persen transaksi melalui internet dari Indonesia adalah hasil carding. Akibatnya,
banyak situs belanja online yang memblokir IP atau internet protocol (alamat komputer internet) asal Indonesia. Kalau kita belanja online, formulir pembelian online shop tidak mencantumkan nama Negara Indonesia. Artinya konsumen Indonesia tidak diperbolehkan belanja di situs itu.

Menurut pengamatan ICT Watch, lembaga yang mengamati dunia internet di Indonesia, para carder kini beroperasi semakin jauh, dengan melakukan penipuan melalui ruang-ruang chatting di mIRC. Caranya para carder menawarkan barang-barang seolah-olah hasil carding-nya dengan harga murah di channel. Misalnya, laptop dijual seharga Rp 1.000.000. Setelah ada yang berminat, carder meminta pembeli mengirim uang ke rekeningnya. Uang didapat, tapi barang tak pernah
dikirimkan.


2.      HACKING 
     Hacking adalah kegiatan menerobos program komputer milik orang/pihak lain. Hacker adalah orang yang gemar ngoprek komputer, memiliki keahlian membuat dan membaca program tertentu, dan terobsesi mengamati keamanan (security)-nya. Hacker memiliki wajah ganda; ada yang budiman ada yang pencoleng.

Hacker
Budiman memberi tahu kepada programer yang komputernya diterobos, akan adanya kelemahan-kelemahan pada program yang dibuat, sehingga bisa “bocor”, agar segera diperbaiki. Sedangkan, hacker pencoleng, menerobos program orang lain untuk merusak dan mencuri datanya.


3.      CRACKING 
    Cracking adalah hacking untuk tujuan jahat. Sebutan untuk cracker adalah hacker bertopi hitam (black hat hacker). Berbeda dengan carder yang hanya mengintip kartu kredit, cracker mengintip simpanan para nasabah di berbagai bank atau pusat data sensitif lainnya untuk keuntungan diri sendiri. Meski sama-sama menerobos keamanan komputer orang lain, hacker lebih fokus pada prosesnya. Sedangkan cracker lebih focus untuk menikmati hasilnya.

Pekan lalu, FBI bekerja sama dengan polisi Belanda dan polisi Australia menangkap seorang cracker remajayang telah menerobos 50  ribu komputer dan mengintip 1,3 juta rekening berbagai bank di dunia. Dengan aksinya, cracker bernama Owen Thor Walker itu telah meraup uang sebanyak Rp1,8 triliun. Cracker 18 tahun
yang masih duduk di bangku SMA itu tertangkap setelah aktivitas kriminalnya di dunia maya diselidiki sejak 2006.


4.      DEFACING 
    Defacing adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain, seperti yang terjadi pada situs Menkominfo dan Partai Golkar, BI baru-baru ini dan situs KPU saat pemilu 2004 lalu. Tindakan deface ada yang semata-mata iseng, unjuk kebolehan, pamer kemampuan membuat program, tapi ada juga yang jahat, untuk mencuri data dan dijual kepada pihak lain.


5.      PHISING 
    Phising adalah kegiatan memancing pemakai komputer di internet (user) agar mau memberikan informasi data diri pemakai (username) dan kata sandinya (password) pada suatu website yang sudah di-deface. Phising biasanya diarahkan kepada pengguna online banking. Isian data pemakai dan password yang vital yang telah dikirim akhirnya akan menjadi milik penjahat tersebut dan digunakan untuk belanja dengan kartu kredit atau uang rekening milik korbannya.
 

6.      SPAMMING 
     Spamming adalah pengiriman berita atau iklan lewat surat elektronik (e-mail) yang tak dikehendaki. Spam sering disebut juga sebagai bulk email atau junk e-mail alias “sampah”. Meski demikian, banyak yang terkena dan menjadi korbannya. Yang paling banyak adalah pengiriman e-mail dapat hadiah, lotere, atau orang yang mengaku punya rekening di bank di Afrika atau Timur Tengah, minta bantuan netters untuk mencairkan, dengan janji bagi hasil.

Kemudian korban diminta nomor rekeningnya, dan mengirim uang/dana sebagai pemancing, tentunya dalam mata uang dolar AS, dan belakangan tak ada kabarnya lagi. Seorang rektor universitas swasta di Indonesia pernah diberitakan tertipu hingga Rp1 miliar dalam karena spaming seperti ini.


7.   MALWARE 
   Malware adalah program komputer yang mencari kelemahan dari suatu software. Umumnya malware diciptakan untuk membobol atau merusak suatu software atau operating system. Malware terdiri dari berbagai macam, yaitu: virus, worm, Trojan horse, adware, browser hijacker, dll. Di pasaran alat-alat komputer dan toko perangkat lunak (software) memang telah tersedia antispam dan anti virus, dan anti malware .

Meski demikian, bagi yang tak waspadai selalu ada yang kena. Karena pembuat virus dan malware umumnya terus kreatif dan produktif dalam membuat program untuk mengerjai korban korbannya.


Hate Speech, Cybertalking, and Copyright
Saat ini melalui perkembangan internet, seseorang dapat memperoleh berita tanpa harus membaca surat kabar. Tapi ketika ada oknum yang menyebarkan berita bohong (rumors), maka akan terjadi keadaan yang simpang siur.

Tahun 2001, 12 ribu orang menjadi korban dari kejahatan kriminal yang disebabkan oleh masalah ras, etnis, agama, bangsa, dan jender. Di dunia internet dapat ditemui bentuk - bentuk provokasi menyangkut perbedaan ras, jender, agama, suku, dan etnis. Hal ini menyebabkan khalayak awam menjadi terpengaruh dan terjadi perpecahan. Hal yang lebih ekstrim terjadi ketika khalayak awam ini ikut menjadi emosi dan membenci suatu golongan.
Penyebaran fitnah atau pidato kebencian ini dapat melalui papan bulletin atau melalui email yang disebarkan. Provokasi bahkan  hingga membentuk suatu komunitas yang membenci target yang menjadi korban (hate crimes) dan berpontensi menimbulkan kekerasan dan kejahatan.

Cyberstalking atau online stalking adalah bentuk teror yang dilakukan melalui internet. Contohnya, seseorang yang menjadi korban akan dikirimi banyak email yang bersifat memusuhi dan menakuti yang berasal dari lebih dari satu orang.
Bentuk lain kejahatan internet adalah tentang hak cipta (Copyright), yang seharusnya menjadi sarana perlindungan untuk para pencipta situs atau produk teknologi baru.,ternyata banyak dilanggar. beberapa kasus menyebutkan bahwa pelanggaran atas hak cipta banyak ditemui di internet. misalnya pada saat sebuah situs informasi publik menampilkan foto foto dari majalah playboy yang telah memiliki hak cipta tanpa izin.

Solusi dan Konklusi
Semakin berkembang suatu teknologi akan semakin berkembang sisi manfaat dan sisi kewaspadaan. Karena keduanya saling berkaitan, peningkatan kriminalitas di bidang teknologi dapat menarik untuk menciptakan cara untuk melindungi dan mematikan kriminalitas tersebut.


Contoh kasus lainnya
Pembobolan Kartu Kreditedit melalui internet 
  • Polda Jabar menyerahkan penanganan kasus carding yang dilakukan seorang mahasiswa di Bandung, Buy alias Sam (25), ke Mabes Polri. Pertimbangannya karena kejahatan yang dilakukan tersangka berdampak ke berbagai negara, sehingga pengusutannya membutuhkan keterlibatan pihak Interpol.
  • Terungkapnya aksi carding di Bandung ini adalah untuk kedua kalinya ditangani kepolisian, setelah tindak kriminal serupa dilakukan sejumlah mahasiswa di kota Yogyakarta.
  • Kepolisian  menjerat sang mahasiswa dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) soal pencurian dan atau penipuan mengingat perangkat hukum yang lebih tepat, terutama soal cyberlaw dan cybercrime di Indonesia belum ada.
  • Aksi yang diduga dilakukan Buy alias Sam itu telah berlangsung sekitar satu tahun lalu. Total kerugian penggunaan kartu kredit orang lain untuk transaksi melalui internet yang dilakukannya mencapai sekitar DM 15 ribu.
  • Terbongkarnya kejahatan Buy sendiri berawal dari berita teleks Interpol Wiesbaden No 0234203 tertanggal 6 September 2001 yang melaporkan adanya penipuan melalui internet dan diduga melibatkan seorang WNI yang bertindak sebagai pemesan barang bernama Buy.
  • Berdasarkan informasi tersebut, Serse Polda Jabar, segera melakukan pelacakan dan pencarian terhadap Buy yang disebutkan beralamat di Perumahan Santosa Asih Jaya Bandung. Akhirnya, melalui pengejaran yang terorganisir, Buy bisa ditangkap di rumahnya, tanpa perlawanan.


Penutup

Pada dasarnya informasi yang dimiliki oleh seseorang adalah hak pribadi yang harus dilindungi sebagai salah satu bentuk hak asasi manusia. Tindakan pencegahan maupun penyidikan suatu kejahatan dengan menyadap informasi di internet harus dilakukan sesuai koridor hukum yang berlaku, dengan tetap memperhatikan rasa keadilan masyarakat, sehingga informasi yang didapat tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Kepolisian RI juga harus proaktif untuk mengadakan kerjasama dengan negara lain dalam meningkatkan pengetahuan dan keahlian anggotanya dalam menangani kejahatan di internet. Apabila belum ada regulasi global, maka yang harus dilakukan dalam menangani kejahatan di internet adalah kerjasama internasional melalui perjanjian ekstradisi maupun mutual legal assistance yang menempatkan tindak pidana di bidang telekomunikasi, khususnya i internet, sebagai prioritas utama.

Rabu, 14 Mei 2014

STRUKTUR DAN FUNGSI CPU



Hal-hal yang perlu dilakukan CPU adalah :
  1. Fetch Instruction / mengambil instruksi : CPU harus membaca instruksi dari memori.
  2. Interpret Instruction / menerjemahkan instruksi : instruksi harus didekode untuk menentukan aksi apa yang diperlukan.
  3. Fetch Data / mengambil data : eksekusi suatu instruksi mungkin memerlukan pembacaan data dari memori atau modul I/O.
  4. Process Data / mengolah data : eksekusi suatu instruksi mungkin memerlukan operasi aritmetika atau logika terhadap data.
  5. Write Data / menulis data : hasil eksekusi mungkin memerlukan penulisan data ke memori atau modul I/O.




Organisasi Register


Organisasi register meliputi jenis-jenis register di bawah ini :

  • General : terdapat 8 buah register general-purpose 32-bit. Register-register ini dapat digunakan untuk semua jenis instruksi Pentium; register-register ini juga dapat menampung operand-operand untuk keperluan kalkulasi alamat. Selain itu, sebagian dari register-register ini juga melayani keperluan-keperluan tertentu. Misalnya : kalkulasi untai menggunakan isi register-register ECX, ESI dan EDI sebagai operand tanpa harus mereferensi register-register ini secara eksplisit di dalam instruksi. Akibatnya, sejumlah instruksi dapat di-enkode lebih ringkas.
  • Segment : keenam register segmen 16-bit berisi pemilih segmen, yang diindex ke dalam tabel segmen. Register code segment (CS) mereferensi segmen yang berisi instruksi yang sedang dieksekusi. Register stack segment (SS) mereferensi segmen yang berisi user-visible stack. Register-register segmen lainnya (DS, ES, FS, GS) mengizinkan pengguna untuk mereferensi hingga empat buah segmen data yang berlainan sekaligus.
  • Flags : register EFLAG berisi kode kondisi (persyaratan) dan bermacam-macam bit mode.
  • Instruction Pointer : berisi alamat instruksi saat itu.

Terdapat juga register-register yang secara khusus ditujukan bagi unit floating point : 
  • Numeric : semua register menampung bilangan floating point 80 bit extended-precision. Terdapat 8 buah register yang berfungsi sebagai suatu stack, yang pada register-register ini operasi-operasi push dan pop-nya dapat diperoleh di dalam set instruksi.
  • Control : register control 16-bit berisi bit-bit yang mengontrol operasi unit floating point, termasuk jenis kontrol pembulatan ; single atau double extended precision ; dan bit-bit untuk mengizinkan atau tidak mengizinkan bermacam-macam kondisi pengecualian.
  • Status : register status 16-bit berisi bit-bit yang merefleksikan status unit floating point saat itu, termasuk pointer 3-bit ke puncak stack ; kode kondisi yang melaporkan hasil operasi terakhir ; exception flags.
  • Tag word : register 16-bit ini berisi tag 2-bit bagi semua register numerik floating point, yang mengindikasikan sifat-sifat isi register yang berkaitan. Keempat nilainya adalah valid, nol, special (NaN, infinity, denormalized) dan kosong. Tag-tag ini mengizinkan program untuk memeriksa isi register numerik tanpa melakukan pendekodean yang kompleks terhadap data sebenarnya yang terdapat di dalam register.



Register EFLAG


Mengindikasikan kondisi processor dan membantu pengontrolan operasinya. Register ini meliputi 6 buah kode kondisi yang didefinisikan dalam carry, parity, auxiliary, nol, sign, overflow, yang melaporkan hasil operasi integer. Selain itu, terdapat bit-bit dalam register yang dapat disebut sebagai bit-bit kontrol, yaitu :
  • Trap Flag (TF) : apabila disetel, akan menyebabkan interrupt setelah semua instruksi. Flag ini digunakan untuk debugging.
  • Interrupt Enable Flag (IF) : apabila disetel, processor akan mengetahui interrupt-interrupt eksternal.
  • Direction Flag : menentukan apakah instruksi pengolahan string menambah atau mengurangi half-register SI dan DI 16-bit atau register ESI dan EDI 32-bit.
  • I / O Privilege Flag (IOPL)
  • Resume Flag (RF)
  • Alignment Check (AC)
  • Identification Flag (ID)
Sistem komputer menggunakan hirarki memori. Pada tingkatan yang atas, memori lebih cepat, lebih kecil dan lebih mahal (per bit). Di dalam CPU, terdapat sekumpulan register yang tingkatan memorinya berada di atas hirarki memori utama dan cache. Register pada CPU memiliki 2 fungsi :

1. User-visible Registers : register ini memungkinkan pemrogram bahasa mesin dan bahasa assembler meminimalkan referensi main memori dengan cara mengoptimasi penggunaan register. Register ini adalah register yang dapat direfensikan dengan menggunakan bahasa mesin yang dieksekusi CPU. 

Secara virtual semua rancangan CPU modem memiliki sejumlah user-visible register, yang merupakan kebalikan akumulator tunggal. Kita dapat membedakannya dengan kategori-kategori berikut ini :
  • Register General Purpose
  • Register Data
  • Register Alamat
  • Register Kode-kode Kondisi
General-Purpose register dapat di-assign ke berbagai fungsi oleh pemrogram. General-Purpose register dapat berisi operand sembarang opcode. Dapat digunakan untuk fungsi-fungsi pengalamatan (mis: register indirect, displacement).

Register Data hanya dapat dipakai untuk menampung data dan tidak dapat digunakan untuk kalkulasi dan alamat operand.

Register alamat menyerupai general-purpose register, atau register-register tersebut dapat digunakan untuk mode pengalamatan tertentu. Contohnya :
  • Segment pointer => pada sebuah mesin yang memiliki pengalamatan bersegmen, register segmen menyimpan alamat basis segmen.
  • Register index => register ini digunakan untuk alamat-alamat yang terindeks dan mungkin autoindexed.
  • Stack pointer => apabila terdapat pengalamatan stack yang user-visible, maka biasanya stack berada di dalam memori dan terdapat register dedicated yang menunjuk ke bagian atas stack. Hal ini memungkinkan pengalamatan implisit, yaitu : push, pop dan instruksi stack lainnya tidak perlu operand stack eksplisi.
Register yang harus menampung alamat sedikitnya harus dapat menampung alamat yang terpanjang. Register-register data harus dapat menampung nilai-nilai sebagian besar jenis data.
Register kode-kode kondisi adalah bit-bit yang disetel perangkat keras CPU sebagai hasil operasi.


2. Control and Status Registers : register-register ini digunakan oleh unit kontrol untuk mengontrol operasi CPU dan oleh program sistem operasi untuk mengontrol eksekusi program. Terdapat 4 macam register yang penting bagi eksekusi instruksi :
  • Program Counter (PC) atau pencacah program : berisi alamat instruksi yang akan diambil.
  • Instruction Register (IR) : berisi instruksi yang terakhir diambil.
  • Memori Address Register (MAR) : berisi alamat sebuah lokasi di dalam memori.
  • Memori Buffer Register (MBR) : berisi sebuah word data yang akan dituliskan ke dalam memori atau word yang terakhir dibaca.
Program counter berisi alamat instruksi. Umumnya program counter di-update oleh CPU setiap kali mengambil instruksi sehingga program counter selalu menunjuk ke instruksi berikutnya yang akan dieksekusi.

MAR terhubung langsung dengan bus alamat, sedangkan MBR terhubung langsung dengan bus data. Pada saatnya, user-visible register bertukar data dengan MBR.

Keempat register yang dibahas di atas digunakan untuk perpindahan data di antara CPU dengan memori. Di dalam CPU, data harus diberikan ke ALU untuk diproses lebih lanjut. ALU dapat memiliki akses langsung ke MBR dan user-visible register. Akan tetapi mungkin juga terdapat register buffering lainnya pada batas ALU, register-register ini berfungsi sebagai register input dan output bagi ALU dan pertukaran data dengan MBR dan user-visible register.

Semua rancangan CPU mencakup sebuah register atau sekumpulan register, sering kali disebut program status word (PSW), yang berisi informasi status. Biasanya PSW berisi kode kondisi dan informasi status lainnya. Common field atau flag meliputi hal-hal berikut ini :
  • Sign : berisi bit tanda hasil operasi aritmetika terakhir.
  • Zero : disetel bila hasil sama dengan nol.
  • Carry : disetel bila operasi yang dihasilkan di dalam carry (penambahan) ke dalam bit yang lebih tinggi atau borrow (pengurangan) dari bit yang lebih tinggi. Digunakan untuk operasi aritmetika multiword.
  • Equal : disetel bila hasil pembandingan logikanya sama.
  • Overflow : digunakan untuk mengindikasikan overflow aritmetika.
  • Interrupt Enable/Disable : digunakan untuk mengizinkan atau mencegah interrupt.
  • Supervisor : mengindikasikan apakah CPU sedang mengeksekusi dalam mode supervisor atau mode user. Instruksi privileged tertentu hanya dapat dieksekusi dalam mode supervisor saja dan daerah-daerah tertentu di dalam memori hanya dapat diakses dalam mode supervisor saja.
Terdapat beberapa register lainnya yang berkaitan denga status dan kontrol yang dapat ditemukan di dalam rancangan CPU tertentu. Selain PSW, mungkin terdapat suatu pointer ke blok memori yang berisi informasi status tambahan. Pada mesin yang memakai interrupt bervektor, dapat disediakan register vektor interrupt. Apabila stack digunakan untuk mengimplementasikan fungsi-fungsi tertentu, maka diperlukan stack pointer sistem. Register juga dapat digunakan dalam pengontrolan operasi I/O.




Siklus Instruksi (Instruction Cycle)


Sebuah siklus instruksi meliputi subsiklus-subsiklus berikut ini :

     
  • Fetch : membaca instruksi berikutnya dari memori ke dalam CPU.
  • Execute : menginterpretasikan opcode dan melakukan operasi yang diindikasikan.
  • Interrupt : apabila interrupt diaktifkan dan interrupt telah terjadi, simpan status proses saat itu dan layani interrupt.


Siklus Tak Langsung


Eksekusi sebuah instruksi melibatkan sebuah operand atau lebih di dalam memori, yang masing-masing operand memerlukan akses memori. Kemudian, apabila digunakan pengalamatan tak langsung, maka diperlukan akses memori tambahan.





Aliran Data


Urutan kejadian selama siklus instruksi berlangsung tergantung pada rancangan CPU. Asumsikan sebuah CPU yang menggunakan register memori alamat (MAR), register memori buffer (MBR), pencacah program (PC) dan register instruksi (IR).

Pada saat siklus pengambilan (fetch cycle), instruksi dibaca dari memori. Siklus pengambilan dan siklus tak langsung cukup sederhana dan dapat diramalkan. Siklus instruksi (instruction cycle) mengambil banyak bentuk karena bentuk tergantung pada bermacam-macam instruksi mesin yang terdapat di dalam IR. Siklus ini dapat meliputi pemindahan data di antara register-register, pembacaan atau penulisan dari memori atau I/O dan penggunaan ALU. Siklus interrupt (interrupt cycle) juga cukup sederhana dan juga dapat diramalkan.



Pipelining Instruksi


Proses pipelining => proses dimana input baru akan diterima pada sebuah sisi sebelum input yang diterima sebelumnya keluar sebagai output di sisi lainnya. Pipeline memiliki dua tahapan yang independen. Tahapan pertama mengambil instruksi dan mem-buffer-kannya. Ketika tahapan kedua bebas, tahapan pertama mengirimkan instruksi yang di-buffer-kan tersebut. Pada saat tahapan kedua sedang mengeksekusi instruksi, tahapan pertama memanfaatkan siklus memori yang tidak dipakai untuk mengambil dan membufferkan instruksi berikutnya. Proses ini disebut instruction prefetch atau fetch overlap.

Penggandaan kecepatan eksekusi tidak akan terjadi karena adanya kedua alasan berikut ini:
  • Umumnya waktu eksekusi akan lebih lama dibandingkan dengan pengambilan instruksi. Eksekusi akan meliputi pembacaan dan penyimpanan operand serta kinerja sejumlah operasi. Sehingga tahapan pengambilan mungkin perlu menunggu beberapa saat sebelum mengosongkan buffer-nya.
  • Instruksi pencabangan bersyarat akan membuat alamat instruksi berikutnya yang akan diambil tidak diketahui. Sehingga tahapan pengambilan harus menunggu sampai menerima alamat instruksi berikutnya dari tahapan eksekusi. Dengan demikian tahapan eksekusi harus menunggu pada saat instruksi berikutnya diambil.

Kerugian waktu yang diakibatkan tahapan kedua dapat dikurangi dengan cara menebak. Aturan sederhananya adalah sebagai berikut : ketika instruksi pencabangan bersyarat dikirimkan dari tahapan pengambilan ke tahapan eksekusi, tahapan pengambilan mengambil instruksi berikutnya di dalam memori setelah terjadinya instruksi pencabangan itu. Kemudian apabila pencabangan tidak dilakukan, maka tidak akan terdapat waktu yang hilang. Apabila pencabangan dilakukan, instruksi yang diambil harus dibuang dan instruksi yang baru harus diambil.
Dekomposisi pengolahan instruksi :
  • Fetch instruction (FI) : membaca instruksi berikutnya yang diharapkan ke dalam buffer.
  • Decode instruction (DI) : menentukan opcode dan operand specifier.
  • Calculate operand (CO) : menghitung alamat efektif seluruh operand sumber. Hal ini mungkin melibatkan displacement, register indirect, indirect atau bentuk kalkulasi alamat lainnya.
  • Fetch operand (FO) : mengambil semua operand dari memori. Operand-operand yang berada di dalam register tidak perlu diambil.
  • Execute instruction (EI) : melakukan operasi yang diindikasikan dan menyimpan hasilnya, bila ada, di lokasi operand tujuan yang telah ditentukan.
  • Write operand (WO) : menyimpan hasilnya di dalam memori.



Menangani Pencabangan


Salah satu masalah besar dalam merancang pipeline instruksi adalah menjamin terjadinya aliran instruksi yang stabil bagi tahapan awal pipeline. Telah dilakukan beberapa pendekatan yang berhubungan dengan pencabangan bersyarat :
  • Multiple Streams
Sebuah pendekatan yang kasar adalah dengan melakukan peniruan bagian pipeline awal dan membiarkan pipeline untuk mengambil kedua instruksi itu, dengan menggunakan dua buah stream, Terdapat beberapa masalah yang terjadi dalam menggunakan pendekatan ini :
  1. Pada multiple pipelines terdapat delay akibat adanya persaingan untuk mengakses register dan memori.
  2. Instruksi pencabangan tambahan mungkin masuk ke pipeline atau stream sebelum pengambilan keputusan pencabangan yang sebenarnya dilakukan. Semua instruksi ini memerlukan stream tambahan.

  • Prefetch Branch Target
Bila pencabangan bersyarat telah diketahui, maka selain terhadap instruksi yang berada setelah pencabangan dilakukan juga prefetch terhadap target pencabangan itu. Kemudian target itu disimpan hingga instruksi pencabangan selesai dieksekusi. Apabila pencabangan dilakukan, maka target telah di-prefetch.

  • Loop Buffer
Merupakan memori berukuran kecil yang berkecepatan tinggi yang digunakan oleh tahapan pengambilan instruksi pipeline dan berisi n buah instruksi yang paling baru diambil secara berurutan.
Loop buffer memiliki 3 kelebihan :
  1. Pada penggunaan prefetching, loop buffer akan berisi beberapa instruksi sekuensial yang berada di depan alamat pengambilan instruksi saat itu. Jadi instruksi yang diambil secara berurutan akan diperoleh tanpa memerlukan waktu akses memori yang biasa.
  2. Apabila pencabangan terjadi dengan target yang hanya terletak beberapa lokasi di depan alamat instruksi pencabangan, maka target akan telah berada di dalam buffer. Hal ini sangat berguna bagi keberadaan rangkaian IF-THEN dan IF-THEN-ELSE.
  3. Strategi ini sangat cocok terutama bagi pencabangan atau iterasi, karena itu dinamakan loop buffer. Apabila loop buffer cukup besar untuk diisi seluruh instruksi yang terdapat dalam loop, maka instruksi-instruksi itu perlu diambil dari memori sekaligus, yaitu pada iterasi petama. Untuk iterasi berikutnya, maka instruksi-instruksi yang dibutuhkan telah terdapat di dalam buffer.

  • Branch Prediction 
Macam-macam teknik yang dapat digunakan untuk memprediksi apakah suatu pencabangan akan dilaksanakan atau tidaknya, yaitu :
  • Predict Never Taken 
  • Predict Always Taken
  • Predict by Opcode
  • Taken / Not Taken Switch
  • Branch History Table
Tiga teknik pertama bersifat statik : teknik-teknik itu tidak bergantung pada sejarah eksekusi sampai dengan waktu instruksi pencabangan bersyarat terjadi. Sedangkan dua teknik terakhir bersifat dinamik : tergantung pada sejarah eksekusi.

  • Delayed Branch
Kinerja pipeline dapat ditingkatkan dengan cara pengaturan kembali instruksi secara otomatis, sehingga instruksi pencabangan terjadi lebih lambat daripada apa yang diinginkan. 



Jumat, 09 Mei 2014

TEKNOLOGI WIRELESS




1. Pendahuluan

Inovasi di dalam teknologi telekomunikasi berkembang dengan cepat dan selaras dengan perkembangan karakteristik masyarakat modern yang memiliki mobilitas tinggi, mencari layanan yang fleksibel, serba mudah dan memuaskan dan mengejar efisiensi di segala aspek. Dari itu, teknik telekomunikasi memiliki target untuk masa depan, yaitu mencapai sistem Future Wireless Personal Communication (FWPC). Sistem tersebut menawarkan layanan komunikasi dari siapa saja, kapan saja, di mana saja, melalui satu deretan nomor sambungan yang tetap, dengan delay yang sekecil-kecilnya, menggunakan suatu unit yang portabel (kecil, dapat dipindah-pindahkan, murah dan hemat) dan memiliki sistem yang kualitasnya tinggi dengan kerahasiaan yang terjamin. 

Teknologi wireless memiliki fleksibelitas, mendukung mobilitas, memiliki teknik frequency reuse, selular dan handover, menawarkan efisiensi dalam waktu (penginstalan) dan biaya (pemeliharaan dan penginstalan ulang di tempat lain), mengurangi pemakaian kabel dan penambahan jumlah pengguna dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Jaringan wireless dapat digunakan untuk transmisi suara maupun data.

2. Wireless Local Area Network (WLAN)

Dengan semakin bertambahnya pemakaian komputer, semakin besar kebutuhan akan pentransferan data dari satu terminal ke terminal lain yang dipisahkan oleh satuan jarak dan semakin tinggi kebutuhan akan efisiensi penggunaan alat-alat kantor (seperti printer dan plotter) dan waktu perolehan data base, maka semakin tinggi pula kebutuhan akan suatu jaringan yang menghubungkan terminal-terminal yang ingin berkomunikasi dengan efisien. Jaringan tersebut dikenal dengan Local Area Network (LAN) yang biasa memakai kabel atau fiber optik sebagai media transmisinya. Sesuai perkembangan karakteristik masyarakat seperti yang telah disebutkan di atas maka LAN menawarkan suatu alternatif untuk komputer portabel yaitu wireless LAN (WLAN). WLAN menggunakan frekuensi radio (RF) atau infrared (IR) sebagai media transmisi. 

3. Pengertian Wireless

Teknologi Wireless pada dasarnya adalah salah satu jenis koneksi internet nirkabel, yaitu koneksi internet yang tidak menggunakan kabel sebagai medianya. Koneksi internet ini menggunkan gelombang elektromagnetik (radio dan infra merah) sebagai media pengantarnya dan untuk melakukan komunikasi data, koneksi internet ini menyalurkan data dari satu point ke point yang lain tanpa melalui fasilitas fisik dan bekerja pada frekuensi yang tinggi, yaitu 11-54 Mbps. Koneksi ini menggunakan frekuensi tertentu untuk menyalurkan data tersebut, kebanyakan Wireless LAN menggunakan frekuensi 2,4 GHz. Frekuensi inilah yang disebut dengan Industrial, Scientific and Medical Band atau sering disebut ISM Band, seperti telah dijelaskan di atas.

4. Sejarah dan Standar WLAN


Pada akhir 1970-an IBM mengeluarkan hasil percobaan mereka dalam merancang WLAN dengan teknologi IR, perusahaan lain seperti Hewlett-Packard (HP) menguji WLAN dengan RF. Kedua perusahaan tersebut hanya mencapai data rate 100 Kbps. Karena tidak memenuhi standar IEEE 802 untuk LAN yaitu 1 Mbps maka produknya tidak dipasarkan. Baru pada tahun 1985, Federal Communication Commission (FCC) menetapkan pita Industrial, Scientific and Medical (ISM band) yaitu 902-928 MHz, 2400-2483.5 MHz dan 5725-5850 MHz yang bersifat tidak terlisensi, sehingga pengembangan WLAN secara komersial memasuki tahapan serius. Barulah pada tahun 1990 WLAN dapat dipasarkan dengan produk yang menggunakan teknik spread spectrum (SS) pada pita ISM, frekuensi terlisensi 18-19 GHz dan teknologi IR dengan data rate >1 Mbps. 

Pasar yang menjadi targetnya adalah pabrik, kantor-kantor yang mengalami kesulitan dalam pengkabelan (seperti kantor dengan interior marmer dll), perkulakan, laboraturium, tempat-tempat yang bersifat sementara (seperti ruang kuliah, rapat, konfrensi dll) dan kampus. Perkiraan sementara yang dihasilkan menunjukkan bahwa kira-kira 5-15 % pasar LAN akan dikuasi oleh WLAN. 

Dengan adanya berbagai merek perangkat keras dan lunak, maka diperlukan suatu standar, di mana perangkat-perangkat yang berbeda merek dapat difungsikan pada perangkat merek lain. Standar-standar WLAN adalah IEEE 802.11, WINForum dan HIPERLAN. 

Wireless Information Network Forum (WINForum) dilahirkan oleh Apple Computer dan bertujuan untuk mencapai pita Personal Communication Service (PCS) yang tidak terlisensi untuk aplikasi data dan suara dan mengembangkan spectrum etiquette (spektrum yang menawarkan peraturan-peraturan yang sangat minim dan akses yang adil). High Performance Radio Local Area Network (HIPERLAN) dilahirkan oleh European Telekommunications Standards Institute (ETSI) yang memfokuskan diri pada pita 5.12-5.30 GHz dan 17.1-17.3 GHz. IEEE 802.11 dilahirkan oleh Institute Electrical and Electronics Engineer (IEEE) dan berfokus pada pita ISM dan memanfaatkan teknik spread spectrum (SS) yaitu Direct Sequence (DS) dan Frequency Hopping (FH), standar ini adalah yang paling banyak dipakai [2]. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada WLAN adalah : 
  1. Data rate tinggi (>1 Mbps), daya rendah dan harga murah.
  2. Metode akses yaitu metode membagi kanal kepada banyak pemakai dengan aturan-aturan tertentu. 
  3. Media transmisi yang merupakan faktor penting pada keterbatasan data rate dan memiliki teknik tersendiri, di mana bila teknik yang berhubungan dengan media transmisi (seperti teknik propagasi dalam ruangan, teknik modulasi dll) dapat diperhitungkan dengan baik maka akan dihasilkan sistem WLAN yang tangguh.
  4. Topologi yaitu cara dan pola yang digunakan dalam menghubungkan semua terminal.


5. Lapisan Fisik dan Topologi

WLAN menggunakan standar protokol Open System Interconnection (OSI) [8]. OSI memiliki tujuh lapisan di mana lapisan pertama adalah lapisan fisik. Lapisan pertama ini mengatur segala hal yang berhubungan dengan media transmisi termasuk di dalamnya spesifikasi besarnya frekuensi, redaman, besarnya tegangan dan daya, interface, media penghubung antar-terminal dll. Media transmisi data yang digunakan oleh WLAN adalah IR atau RF. 

a. Infrared (IR) 

Infrared banyak digunakan pada komunikasi jarak dekat, contoh paling umum pemakaian IR adalah remote control (untuk televisi). Gelombang IR mudah dibuat, harganya murah, lebih bersifat directional, tidak dapat menembus tembok atau benda gelap, memiliki fluktuasi daya tinggi dan dapat diinterferensi oleh cahaya matahari. Pengirim dan penerima IR menggunakan Light Emitting Diode (LED) dan Photo Sensitive Diode (PSD). WLAN menggunakan IR sebagai media transmisi karena IR dapat menawarkan data rate tinggi (100-an Mbps), konsumsi dayanya kecil dan harganya murah. WLAN dengan IR memiliki tiga macam teknik, yaitu Directed Beam IR (DBIR), Diffused IR (DFIR) dan Quasi Diffused IR (QDIR). 


1. DFIR 
Teknik ini memanfaatkan komunikasi melalui pantulan. Keunggulannya adalah tidak memerlukan Line Of Sight (LOS) antara pengirim dan penerima dan menciptakan portabelitas terminal. Kelemahannya adalah membutuhkan daya yang tinggi, data rate dibatasi oleh multipath, berbahaya untuk mata telanjang dan resiko interferensi pada keadaan simultan adalah tinggi. 

2. DBIR 
Teknik ini menggunakan prinsip LOS, sehingga arah radiasinya harus diatur. Keunggulannya adalah konsumsi daya rendah, data rate tinggi dan tidak ada multipath. Kelemahannya adalah terminalnya harus fixed dan komunikasinya harus LOS. 

3. QDIR 
Setiap terminal berkomunikasi dengan pemantul, sehingga pola radiasi harus terarah. QDIR terletak antara DFIR dan DBIR (konsumsi daya lebih kecil dari DFIR dan jangkaunnya lebih jauh dari DBIR). 



b. Radio Frequency (RF) 

Penggunaan RF tidak asing lagi bagi kita, contoh penggunaannya adalah pada stasiun radio, stasiun TV, telepon cordless dll. RF selalu dihadapi oleh masalah spektrum yang terbatas, sehingga harus dipertimbangkan cara memanfaatkan spektrum secara efisien. WLAN menggunakan RF sebagai media transmisi karena jangkauannya jauh, dapat menembus tembok, mendukung teknik handoff, mendukung mobilitas yang tinggi, meng-cover daerah jauh lebih baik dari IR dan dapat digunakan di luar ruangan. WLAN, di sini, menggunakan pita ISM dan memanfaatkan teknik spread spectrum (DS atau FH). 

  • DS adalah teknik yang memodulasi sinyal informasi secara langsung dengan kode-kode tertentu (deretan kode Pseudonoise/PN dengan satuan chip). 
  • FH adalah teknik yang memodulasi sinyal informasi dengan frekuensi yang loncat-loncat (tidak konstan). Frekuensi yang berubah-ubah ini dipilih oleh kode-kode tertentu (PN). 

WLAN dengan RF memiki beberapa topologi sebagai berikut : 
  • Tersentralisasi 
Nama lainnya adalah star network atau hub based. Topologi ini terdiri dari server (c) dan beberapa terminal pengguna, dimana komunikasi antara terminal harus melalui server terlebih dahulu. Keunggulannya adalah daerah cakupan luas, transmisi relatif efisien dan desain terminal pengguna cukup sederhana karena kerumitan ada pada server. Kelemahannya adalah delay-nya besar dan jika server rusak maka jaringan tidak dapat bekerja. 
  • Terdistribusi 
Dapat disebut peer to peer, di mana semua terminal dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa memerlukan pengontrol (servers). Di sini, server diperlukan untuk mengoneksi WLAN ke LAN lain. Topologi ini dapat mendukung operasi mobile dan merupakan solusi ideal untuk jaringan ad hoc. Keunggulannya jika salah satu terminal rusak maka jaringan tetap berfungsi, delay-nya kecil dan kompleksitas perencanaan cukup minim. Kelemahannya adalah tidak memiliki unit pengontrol jaringan (kontrol daya, akses dan timing). 

  • Jaringan selular 
Jaringan ini cocok untuk melayani daerah dengan cakupan luas dan operasi mobile. Jaringan ini memanfaatkan konsep microcell, teknik frequency reuse dan teknik handover. Keunggulannya adalah dapat menggabungkan keunggulan dan menghapus kelemahan dari ke dua topologi di atas. Kelemahannya adalah memiliki kompleksitas perencanaan yang tinggi.



6. Keuntungan Menggunakan Teknologi Wireless

Seiring dengan kebutuhan akses internet yang cepat, maka penggunaan teknologi wireless atau media nirkabel sangat dibituhkan. Untuk itu layanan wireless broadband adalah salah satu dari beberapa layanan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan akses internet perusahaan besar dengan koneksi yang tidak terbatas (unlimited). Koneksi internet wireless broadband menggunakan radio link untuk menghubungkan satu kantor atau gedung dengan yang lain. Jika bukan berupa gedung tinggi, maka akan dipasang tower agar bisa menjangkau BTS yang terdekat. Keuntungan menggunakan koneksi internet wireless broadband diantaranya:
  1. akses internet cepat bisa mencapai 11 Mbps
  2. Teknologinya mudah untuk diterapkan
  3. biaya masih terjangkau
  4. instalasi yang mudah.


7. Kelebihan & Kekurangan Teknologi Wireless

Jaringan wireless memiliki keunggulan dan kelemahan sebagai berikut : 
  • Keunggulannya adalah biaya pemeliharannya murah (hanya mencakup stasiun sel bukan seperti pada jaringan kabel yang mencakup keseluruhan kabel), infrastrukturnya berdimensi kecil, pembangunannya cepat, mudah dikembangkan (misalnya dengan konsep mikrosel dan teknik frequency reuse), mudah & murah untuk direlokasi dan mendukung portabelitas.
  • Kelemahannya adalah biaya peralatan mahal (kelemahan ini dapat dihilangkan dengan mengembangkan dan memproduksi teknologi komponen elektronika sehingga dapat menekan biaya jaringan), delay yang besar, adanya masalah propagasi radio seperti terhalang, terpantul dan banyak sumber interferensi (kelemahan ini dapat diatasi dengan teknik modulasi, teknik antena diversity, teknik spread spectrum dll), kapasitas jaringan menghadapi keterbatas spektrum (pita frekuensi tidak dapat diperlebar tetapi dapat dimanfaatkan dengan efisien dengan bantuan bermacam-macam teknik seperti spread spectrum/DS-CDMA) dan keamanan data (kerahasian) kurang terjamin (kelemahan ini dapat diatasi misalnya dengan teknik spread spectrum) [1,7 dan 9].
  • Yang unik dari media transmisi wireless adalah :
  1. Sinyalnya terputus-putus (intermittence) yang disebabkan oleh adanya benda antara pengirim dan penerima sehingga sinyal terhalang dan tidak sampai pada penerima (gejala ini sangat terasa pada komunikasi wireless dengan IR).
  2. Bersifat broadcast akibat pola radiasinya yang memancar ke segala arah, sehingga semua terminal dapat menerima sinyal dari pengirim.
  3. Sinyal pada media radio sangat komplek untuk dipresentasikan kerena sinyalnya menggunakan bilangan imajiner, memiliki pola radiasi dan memiliki polarisasi.
  4. Mengalami gejala yang disebut multipath yaitu propagasi radio dari pengirim ke penerima melalui banyak jalur yang LOS dan yang tidak LOS/terpantul.